Thursday, 20 October 2016

Integrasi Muslim di Eropa



            Melihat fenomena yang terjadi di belahan dunia saat ini yang dipenuhi ketegangan antara negara satu dengan negara lainnya dan adanya aktor lain yang juga memerangi negara dunia ini (Islamic State of Iraq and Suriah) membuat dunia saat ini dalam keadaan darurat yang memungkinkan terjadinya perang dunia. Hampir diseluruh kawasan dunia ini terdapat konflik atau ketegangan yang terjadi baik dalam negeri maupun luar negeri.
    
            Mulai dari kawasan Timur Tengah yang dipenuhi dengan konflik peperangan yang sangat pelik dan tidak kunjung selesai. Kemudian kawasan Asia Timur dengan ketegangan nuklir Korea Utara yang membuat negara-negara disekitarnya terancam terutama Korea Selatan. Lalu kawasan Eropa yang sering dilanda serangan terorisme. Kawasan Amerika Utara yang juga dipenuhi aksi penembakan, sedangkan Amerika Selatan dilanda krisis ekonomi Venezuela, aksi para penyelundupan narkoba, pemberontakan terhadap pemerintah yang berkuasa dan masih banyak lagi.
    
            Namun dari sekian banyak konflik yang terjadi, penulis hanya memfokuskan pada konflik yang terjadi di Timur Tengah karena konflik tersebut berdampak luas terhadap dunia ini. Konflik tersebut menimbulkan krisis imigran terbesar setelah Perang Dunia II. Krisis imigran ini menimbulkan permasalahan bagi negara-negara di Eropa yang menjadi tujuan para imigran. Hal demikian juga memicu terjadinya berbagai konflik dan penyerangan terorisme di Benua Eropa.
    
            Konflik yang terjadi di Timur Tengah ini melibatkan masyarakat Muslim disana. Peperangan yang terus terjadi di kawasan ini membuat nama Islam tercoreng. Berbagai tindakan kekerasan dan terorisme yang mengatasnamakan Islam semakin menimbulkan Islamophobia. Tidak hanya di Timur Tengah tindakan ekstrimisme yang mengatasnamakan Islam ini juga terjadi sampai ke Eropa. Hal ini meningkatkan Islamophobia di kawasan Eropa yang sangat merugikan masyarakat Muslim disana.
    
            Keadaan yang sangat merugikan masyarakat Muslim di Eropa ini seperti perlakuan diskriminasi terhadap Muslim disana dan sikap waspada masyarakat Eropa yang membuat Muslim disana tidak nyaman untuk menjalankan keyakinannya. Selain itu kehadiran para pengungsi dari Timur Tengah ke Eropa yang menambah beban negara-negara Eropa karena harus menampung para pengungsi ini di negaranya.
    
            Meskipun masih terdapat masyarakat Eropa yang menyambut baik para pengungsi yang mayoritas Muslim ini seperti Jerman. Masyarakat Jerman menyambut baik pengungsi dengan memberikannya pelayanan dan tempat tinggal yang layak. Kanselir Jerman Angela Merkel juga sempat memberlakukan kebijakan pintu terbuka (open-door policy) bagi para pengungsi. Namun saat ini kebijakan tersebut sudah tidak diberlakukan lagi.
            Uni Eropa juga terus berupaya untuk meminta negara anggotanya untuk berbagi kuota pengungsi agar tidak terjadi penumpukkan pengungsi di negara-negara selatan Eropa seperti Yunani dan Italia. Saat Uni Eropa sedang berusaha mendorong anggotanya untuk memberikan penampungan bagi pengungsi justru berbagai serangan terorisme melanda Eropa. Mulai dari penyerangan terhadap kantor majalah Charlie Hebdo dan serangan bom saat konser musik di Paris, bom bunuh diri di bandara Brussels, dan serangan saat perayaan Bastille day di Nice.
    
            Serangkaian serangan tersebut menimbulkan gambaran negatif terhadap Muslim karena mayoritas serangan tersebut dilakukan oleh Muslim. Akibatnya Islamophobia di kalangan masyarakat Eropa semakin meningkat. Muslim di Eropa semakin tidak leluasa melakukan aktivitas karena selalu diawasi oleh aparat keamanan setempat. Masyarakat Muslim di Eropa juga sulit untuk bergabung dengan masyarakat kulit putih Eropa karena pandangan negatif ini bahkan tidak jarang malah perlakuan diskriminasi yang diterima oleh Muslim Eropa.
    
            Oleh karena itu diperlukan suatu upaya menciptakan integrasi Muslim dengan masyarakat Eropa. Upaya ini perlu mengingat Muslim seringkali menjadi korban diskriminasi dan tidak bebas menjalankan keyakinannya yang sejatinya merupakan hak setiap orang. Upaya integrasi Muslim di Eropa sebenarnya sudah lama dilakukan namun pelaksanaannya masih belum mencapai hasil maksimal. Namun Uni Eropa sebagai Institusi yang menaungi negara-negara Eropa terus mengupayakan terciptanya integrasi Muslim di Eropa melalui berbagai programnya.
    
            Berbagai upaya integrasi telah dilakukan Uni Eropa sejak 1950an dalam rangka mempromosikan kedamaian dan kemakmuran di Eropa. Meskipun kebijakan integrasi dan tindakan mencegah radikalisme merupakan tanggung jawab setiap negara anggota namun Uni Eropa menawarkan forum untuk mendiskusikan tantangan bersama dan mencapai kerjasama strategis. Peran Uni Eropa ini penting untuk mendorong integrasi Muslim, mengharmoniskan standar dan mengawasi kebijakan nasional negara anggotanya.
    
            Adanya institusi internasional seperti Uni Eropa ini akan lebih efektif dalam menciptakan integrasi Muslim di Eropa karena negara anggotanya berkewajiban untuk menaati peraturan yang ada dalam institusi ini. Hal ini sesuai dengan sesuai dengan teori neo-liberal institusionalisme dalam hubungan internasional yang memiliki prinsip, norma, dan seperangkat aturan yang harus ditaati setiap anggotanya.
 
            Upaya Uni Eropa dalam integrasi Muslim di Eropa salah satunya dengan membangun kerangka kerja integrasi seperti dengan menerbitkan buku panduan integrasi bagi para pembuat kebijakan. Buku panduan ini tentu sangat berguna bagi para pembuat kebijakan untuk menciptakan integrasi Muslim di negaranya. Sehingga warga Muslim mendapat perhatian pembuat kebijakan dalam membuat suatu kebijakan.
    
         Namun upaya tersebut juga harus didukung oleh pemerintah negara di Eropa. Karena kebijakan domestik merupakan urusan pemerintahan dalam negeri masing-masing Uni Eropa tidak dapat mencampuri urusan tersebut. Karena itu penting bagi pemerintah negara untuk mengimplementasikan kerangka kerja yang telah dibuat oleh Uni Eropa dan disepakati bersama. Selain peran pemerintah, masyarakat  juga berperan dalam menyukseskan program integrasi ini, baik dari masyarakat Muslim maupun masyarakat asli setempat. 
    
         Upaya tersebut harus segera dilakukan secepatnya sebab gambaran negatif terhadap Muslim saat ini terus meningkat seiring dengan banyaknya tindakan terorisme dan radikalisme yang terjadi di Eropa saat ini. Peperangan yang tiada henti-hentinya terjadi di Timur Tengah sangat merugikan masyarakat dunia dan Muslim yang menjadi  korban karena harus meninggalkan negerinya dan bermigrasi ke wilayah yang aman.
    
            Tidak hanya Muslim di Timur Tengah saja yang menjadi korban namun Muslim di Eropa juga menjadi korban diskriminasi. Tidak jarang pandangan yang menyamakan Islam yang penuh dengan peperangan seperti yang terjadi di Timur Tengah saat ini padahal sebenarnya peperangan yang terjadi di Timur Tengah sungguh tidak mencerminkan tindakan seorang Muslim yang beriman. Memang peperangan dan tindakan terorisme dilakukan oleh Muslim namun bukanlah Muslim yang beriman.
            Sesungguhnya Islam mengajarkan nilai-nilai kebaikan dan tidak menggunakan kekerasan dalam setiap tindakan. Pandangan yang ada dimasyarakat Eropa adalah pandangan mengenai Muslim yang tidak beriman karena sebenarnya Muslim yang beriman tidak akan menggunakan kekerasan dalam setiap tindakan. Kenyataan inilah yang harus diubah oleh seluruh masyarakat dunia melalui upaya integrasi Muslim dengan membangun komunikasi yang baik antara Muslim dan masyarakat Eropa sehingga mereka mengetahui Muslim yang sesungguhnya.
    
            Komunikasi yang baik antara Muslim dengan masyarakat asli Eropa merupakan kunci dalam menciptakan integrasi antara keduanya sehingga pandangan negatif dan Islamophobia dapat dihilangkan. Karena dengan memberikan gambaran Islam yang sebenarnya yang merupakan sangat menjunjung tinggi nilai-nilai kebaikan akan menciptakan hubungan yang harmonis antara Muslim dan masyarakat Eropa. Bukan tidak mungkin dengan komunikasi yang baik masyarakat Eropa justru akan semakin memperat hubungan dengan Muslim dan mengurangi ketegangan yang selama ini terus terjadi di Eropa saat ini.


Referensi :
http://www.euronews.com/2016/07/15/a-timeline-of-terror-attacks-in-france-and-belgium-since-charlie-hebdo
Robert O. Keohane, Power and Governance in a Partially Globalized World, London: Routledge, 2002
Kristin Archick, Paul Belkin, dkk, Muslim in Europe: Promoting Integration and Countering Extremism, New York: Congressional Research Service, 2011, hal: 1-9, 15-20