Friday, 24 May 2019

Krisis Brexit: Pejabat mengundurkan diri, tekanan menumpuk bagi PM May

Diterjemahkan dari harian online The Jakarta Post pada Kamis, 23 Mei 2019


Theresa May

Pendukung terkemuka Brexit Andrea Leadsom mengundurkan diri dari pemerintahan Perdana Menteri Theresa May pada Rabu kemarin, menumpuk tekanan terhadap pemimpin Inggris setelah sebuah langkah pertama baru Brexit menjadi bumerang dan memicu pemberhentian untuknya.

Sejauh ini May sudah bertahan, bersumpah untuk terus maju meskipun ditentang dari anggota parlemen dan para pejabat lainnya hingga upayanya untuk mendapatkan kesepakatan Brexitnya melalui parlemen dengan melunakkan pendiriannya pada sebuah referendum kedua dan pengaturan bea cukai.

Akan tetapi pengunduran diri Leadsom semakin memperdalam krisis Brexit, melemahkan pemimpin yang otoritasnya sudah lemah. Hampir tiga tahun sejak Inggris memilih untuk meninggalkan Uni Eropa, hal tersebut tidak jelas kapan, bagaimana atau bahkan jika Brexit akan terjadi.

Leadsom, Ketua Dewan Perwakilan, mengatakan dia tidak bisa mengumumkan Nota Perjanjian Penarikan baru, yang akan menerapkan kepergian Inggris, di parlemen pada Kamis karena dia tidak percaya hal itu.

Andrea Leadsom

“Saya tidak lagi percaya bahwa pendekatan kami akan menyampaikan hasil referendum,” sekali lagi sebuah penantang terhadap May untuk menjadi perdana menteri, Leadsom mengatakan dalam sebuah surat pengunduran diri.

“Karena itu dengan rasa penyesalan yang besar dan dengan berat hati bahwa saya mengundurkan diri dari pemerintahan.

Seorang juru bicara Jalan Downing memuji Leadsom dan menyatakan kekecewaan atas keputusannya, akan tetapi dia menambahkan: “Perdana menteri tetap fokus pada penyampaian pilihan rakyat untuk Brexit.”

May mungkin masih mencoba untuk terus maju dengan rencana Brexit barunya, yang mencakup sebuah pilihan pada apakah untuk mengadakan referendum Brexit kedua –sekali lagi perundang-undangannya telah melewati tahap pertama—maupun peraturan perdagangan yang lebih dekat dengan UE.

Akan tetapi hal tersebut telah menimbulkan sebuah reaksi cepat, dengan beberapa anggota parlemen yang telah mendukungnya dalam pilihan Brexit sebelumnya mengatakan mereka tidak dapat mengembalikan rencana baru, terutama atas putaran baliknya mengenai sebuah kemungkinan referendum kedua.

“Saya sudah selalu mempertahankan bahwa referendum kedua akan sangat memecah belah, dan saya tidak mendukung pemerintah dengan sukarela memfasilitasi konsesi semacam itu,” Leadsom mengatakan.

“Tidak ada satu pun yang menginginkan Anda berhasil melebihi saya,” Leadsom menulis untuk May. “Akan tetapi yang saya lakukan sekarang mendesak Anda untuk membuat keputusan yang tepat demi kepentingan negara, pemerintah ini dan partai kita.

Anggota parlemen Partai Buruh Ian Lavery, ketua dari partai oposisi, mengatakan pengunduran diri menggarisbawahi bahwa “otoritas perdana menteri ditembak dan waktunya telah habis.”

Ian Lavery

“Untuk kebaikan negara, Theresa May butuh untuk pergi, dan kami butuh sebuah pemilihan umum segera,” dia mengatakan.

WAKTUNYA UNTUK PERGI

Seruan Partai Buruh menggemakan banyak kubu Konservatif May itu sendiri, yang mengatakan bahwa sebuah percobaan keempat untuk mendapatkan  persetujuan mengenai urusannya dari parlemen harus dikesampingkan dan dia harus meninggalkan kantor untuk menawarkan seorang pemimpin baru sebuah kesempatan untuk mengatur kembali urusan tersebut.

“Terdapat satu kesempatan terakhir untuk membuat hal itu benar dan pergi dengan tertib. Akan tetapi sekarang waktunya untuk Perdana Menteri Theresa May untuk pergi – dan tanpa penundaan,” ucap anggota parlemen Konservatif Tom Tugendhat, ketua Komite Pemilihan Luar Negeri parlemen.

Tom Tughendhat

“Dia harus mengumumkan pengunduran dirinya setelah pemilihan (parlemen) Eropa hari Kamis,” dia menulis pada Financial Times.

Akan tetapi sementara begitu banyak tentang Brexit di udara, yang jelas adalah bahwa May berencana untuk tinggal sampai saat ini, atau setidaknya sampai beberapa hari ke depan.

Ketua Komite Konservatif 1922 yang kuat, yang dapat mengajukan atau menghentikan perdana menteri, menyampaikan kepada para anggota parlemen bahwa dia berencana untuk kampanye dalam pemilihan Eropa pada Kamis sebelum pertemuan dengan kelompok tersebut pada Jumat untuk mendiskusikan kepemimpinannya.

May sejauh ini menangkis berbagai tawaran untuk mengusir dirinya dengan menjanjikan untuk menetapkan jadwal keberangkatan setelah parlemen memiliki kesempatan untuk memilih kembali terhadap Brexit, akan tetapi sebuah diskusi baru pada kemungkinan tanggal dapat berlangsung sekarang pada Jumat.

Sebelumnya pada Rabu, May berdiri tegak selama lebih dari dua jam pertanyaan di parlemen, mendesak anggota parlemen untuk mengembalikan nota tersebut dan kemudian memiliki kesempatan untuk membuat perubahan-perubahan untuk itu, sehingga mereka dapat memiliki pengawasan lebih atas pembentukan akhir Brexit tersebut.

Ditanyakan oleh anggota parlemen euroskeptis Jacob Rees-Moog apakah dia benar-benar percaya pada persetujuan baru yang dia sudah ajukan atau apakah dia hanya mengutarakan mosi-mosi,

Jacob Rees-Moog

May mengatakan:

“Saya tidak berpikir saya akan berdiri di sini di kotak pengiriman dan menerima beberapa komentar yang saya telah terima dari rekan-rekan dari kubu saya dan di luar kubu saya jika saya tidak percaya dengan apa yang saya sedang lakukan.”

Krisis maraton Inggris atas Brexit telah mengejutkan para aliansi dan musuh. Dengan kebuntuan di London, negara ekonomi terbesar kelima dunia tersebut menghadapi berbagai pilihan meliputi jalan keluar untuk memperlancar transisi, keluar tanpa kesepakatan, sebuah pemilihan, referendum kedua, atau bahkan pencabutan dari artikel 50 pemberitahuan untuk meninggalkan UE.

Mata uang Poundsterling berada di jalur penurunan beruntun terpanjangnya terhadap euro karena beberapa pedagang mengatakan mereka melihat meningkatnya peluang Brexit tanpa kesepakatan. Berbagai ketakutan itu mendorong para investor ke dalam keamanan relative obligasi pemerintah –terutama mereka yang menawarkan perlindungan terhadap lonjakan inflasi.

Andrew Bridgen

“Pembacaan kedua yang diusulkan dari WAB jelas ditakdirkan untuk gagal sehingga benar-benar tidak ada gunanya menyia-nyiakan waktu pada harapan keselamatan kesedihan perdana menteri,” Andrew Bridgen, seorang anggota parlemen Konservatif, mengatakan kepada Reuters. “Dia harus pergi.”

No comments:

Post a Comment